Rabu, 07 Oktober 2020

RASIO KEUANGAN
Rasio menunjukkan hubungan matematik antara suatu jumlah dengan jumlah lainnya atau perbandingan antara satu pos dengan pos lainnya. Rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan dirancang untuk mengevaluasi laporan keuangan suatu perusahaan. Dalam hubungannya dengan pengambilan keputusan, rasio keuangan bertujuan untuk menilai efektifitas keputusan yang telah diambil oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas usahanya.
Secara garis besar, rasio keuangan terbagi empat, yaitu Likuiditas, Aktivitas, Solvabilitas, dan profitabilitas.

1. Rasio Likuiditas, yaitu kemampuan keuangan perusahaan dalam membayar hutang-hutang jangka pendeknya dengan sejumlah aktiva lancar yang dimiliki.
a.     Rasio Lancar (current ratio), dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Cth tahun 2006
                         Aktiva Lancar         Rp. 68.000


CR         =    ------------------------  =  -----------------   = 2.27 x
                         Hutang Lancar       Rp. 30.000
Rata–Rata Industri (RI) sebanyak 2 x atau 200%.
RI 2,27 x atau 227% menunjukkan kemampuan perusahaan menjamin setiap Rp1 hutang lancar dengan 2.27 aktiva lancar. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik (likuid). Nilai ini dianggap baik karena > dari rasio rata2 industri.
b. Acid Test Ratio (Rasio Cepat/Quick Ratioadalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajban lancarnya tanpa mempertimbangkan (memasukkan) persediaan.
               Aktiva Lancar - Persediaan    

QR    =   -------------------------------------                                                                                    Hutang Lancar               
               Rp. 68.000 – Rp.40.000

          =   -------------------------------  = 0.93 x atau 93%
                         Rp. 30.000
Rata – Rata Industri = 1.5 x atau 150%
0,93 x atau 93% menunjukkan kemampuan perusahaan menjamin setiap Rp1 hutang lancar dengan jaminan aktiva lancar tanpa persediaan sebesar 0.93. Nilai ini dianggap kurang baik karena < dari rasio rata-rata industri.
2.  Rasio Aktivitas (rasio manajemen aktiva) yaitu serangkaian rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktiva-aktivanya 
      a. Rasio Perputaran Persediaan (PP)
                         Penjualan           Rp. 20.000


PP          =    -------------------  =   ------------------  = 0.5 x
                         Persediaan          Rp. 40.000
Semakin tinggi nilai rasio ini semakin baik atau semakin efisien atau semakin sering penjualan dihasilkan. Tingkat PP yang rendah memungkinkan perusahaan mengalami kerugian karena persediaan rusak atau usang.
b. Rasio Perputaran Aktiva Tetap (PAT), adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan aktiva tetapnya. 
                                       Penjualan  Rp20.000

PAT       =  -------------     
                = 0.16 x
                  
                                      Aktiva Tetap Bersih  Rp. 125.000
 

Rasio ini menunjukkan bhawa dalam 1 tahun perusahaan mampu memutar dana dalam aktiva tetapnya guna menghasilkan penjualan sebanyak 0.16 x.
      c.      Umur Rata-Rata Piutang (URRP), menunjukkan jangka waktu rata-         rata yang harus ditunggu perusahaan setelah melakukan penjualan            sebelum menerima kas.
                                                  Piutang   

URRP    =  -----------------------------------------------------------------                                  Rata2 Penjualan Perhari atau Penjualan / 365 hari   
                         Rp.20.000                        

URRP    =  ------------------------- = 365 hari            
                   Rp.20.000 / 365 hari             

Nilai ini menunjukkan bahwa rata-rata konsumen perusahaan membayar dalam waktu yang cukup lama (365 hari atau setara dengan 1 tahun) dan hal ini akan menyedot dana perusahaan yang sebenarnya dapat dipergunakan untuk investasi dalam aktiva yang lebih produktif.
3. Rasio Solvabilitas~Struktur Modal (Debt Ratio), yaitu rasio yang mengukur kemampuan perusahaan membayar utang2nya, terutama hutang jangka panjang. Atau rasio yang mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau mengukur tingkat proteksi kreditor jangka panjang 
a.   Rasio Hutang (Debt Ratio), adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin hutangnya dengan sejumlah aktiva yang dimiliki. Cth tahun 2006
                         Total Hutang      Rp. 68.000


DR         =   ----------------------  =  ------------------ = 0.29 a/ 29%
                         Total Aktiva       Rp. 233.000
Hal ini menunjukkan bahwa 0.29 atau 29% dari total aktiva perusahaan dibiayai dengan modal pinjaman (hutang). Semakin tinggi rasio ini semakin berat beban hutang perusahaan.
b. Rasio Hutang Terhadap Modal Sendiri (Debt to Equity Ratio),
                         Total Hutang                   Rp. 68.000


DER       = -----------------------------   =  ------------------ = 0.41 a/ 41%
                    Total Modal Sendiri           Rp. 165.000
Bahwa setiap Rp 0.41 utang jangka panjang dijamin dengan Rp.1 modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan semakin besar hutang jangka panjang dibanding modal sendiri yang dimiliki.

c. Rasio Kelipatan Membayar Bunga (Time Interest  arned-TIE), Rasio yang mengukur  sejauh mana laba operasi dapat menurun sebelum perusahaan tidak mampu lagi membayar biaya bunga tahunannya atau rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi pembayaran bunga tahunan.
                         Laba Sebelum Bunga & Pajak (Laba Operasi)    

TIE         =  ------------------------------------------------------------------                                                                  Beban Bunga
                          Rp.5.000                         

               =       -------------  = 2,5 kali (rendah)        
                        Rp. 2.000
Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin baik atau perusahaan tidak akan mengalami kesulitan jika ingin meminjam dana lagi.

4.  Rasio Profitabilitas, adalah sekelompok rasio-rasio yang menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang pada hasil-hasil operasi atau kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri.
a. Margin Laba Kotor/MLK (Gross Profit Margin), rasio yang mengukur berapa besar laba kotor yang dihasilkan dibanding dengan total penjualan bersih perusahaan. 
                         Laba Kotor      Rp. 5.000


MLK      =   ------------------- = --------------- = 0.50 a/ 50%
                           Penjualan      Rp. 20.000

Nilai 50% menunjukkan bahwa setiap Rp.1 penjualan menghasilkan laba kotor sebesar Rp.0.50. Semakin besar rasio ini, maka semakin semakin baik atau menunjukkan perusahaan mampu menekan kenaikan HPP pada prosentase di bawah kenaikan penjualan.
b. Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin), disebut juga pure profit yaitu profit yang dihasilkan benar2 murni dari hasil operasi. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasi dari penjualan yang dicapai. Contoh tahun 2006 :
                         Laba Operasi       Rp. 5.000


MLO      =  ----------------------- = ------------------ = 0.25 atau 25%
                           Penjualan           Rp. 20.000

Nilai 25% menunjukkan bahwa setiap Rp.1 penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp.0.25. Semakin besar rasio ini, maka semakin semakin baik.
c. Margin Laba Atas Penjualan~MLP (Profit Margin On Saleatau Net Profit Margin, yaitu rasio yang mengukur jumlah laba bersih pernilai rupiah penjualan. Rasio ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengendalikan biaya & pengeluaran sehubungan dengan penjualan.
             Laba Bersih (Tersedia Untuk Pemegang Shm Biasa)    

MLP =  ---------------------------------------------------------------------     
                                                 Penjualan
                         Rp.2.100                      

               =    ------------------- = 0.11 atau 11%  
                         Rp. 20.000
Angka ini menunjukkan bahwa setiap Rp.1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.11.
d. Rasio Pengembalian Atas Aktiva (ROA~Return on total Assets), atau ada juga menyebutnya Rasio Return on Investment (ROI)yaitu Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dengan penggunaan seluruh aktiva yang dimiliki. 

                 Laba Bersih Setelah Pajak      Rp.2.100


ROA   =   ----------------------------------- = --------------- = 0.01 atau 1%
                            Total Aktiva                    Rp.233.000

 Nilai ini menunjukkan bahwa setiap penggunaan Rp.1 aktiva akan menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.01.-
e. Return on Equity (ROE),  atau Return on Net WorthRasio yang mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham. 
                 Laba Bersih Setelah Pajak      Rp.2.100

ROE   =  -------------------------------------  = ------------- = 0.01 a/ 1%
                            Modal Sendiri                 Rp.165.000


Nilai ini menunjukkan bahwa setiap penggunaan Rp.1 modal sendiri akan menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.01.-

Kamis, 11 Desember 2014

MANAGEMENT (Strategy)

BUSINESS MODEL CANVAS

BISNIS MODEL KANVAS (Business Model Canvas/BMC) merupakan konsep model bisnis yang unik. Konsep ini dikembangkan Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur. Mereka berhasil mengubah konsep model bisnis yang rumit menjadi sederhana. Dalam pendekatan kanvas, model bisnis ditampilkan dalam satu lembar kanvas, berisi peta sembilan elemen (kotak). Lantaran kesederhanaannya, metode kanvas dapat mendorong sebanyak mungkin karyawn terlibat dalam pengembangan model bisnis organisasinya.
Para akademisi menjelaskan pengertian model bisnis dalam tiga kelompok. Pertama adalah model bisnis sebagai metode (cara), model bisnis dilihat dari aspek komponen-komponennya, dan model bisnis sebagai strategi bisnis.
Elemen Business Model Canvas mencakup 9 blok yaitu: Customer Segment, Value Proposition, Channel, Customer Relationship, Revenue Stream, Key Resourcess, Key Activities, Key Partnership, dan Cost Sturcture. Penyusunan model bisnis dengan pendekatan ini dimulai dari Customer Segment, diikuti dengan Value Proposition, Channel, Customer Relationship, Revenue Streams, Key Resources, Key Activities, Key Partners, dan Cost Structure.
Dalam mengembangkan BMC, organisasi dapat mulai dari memotret kondisi saat ini, diikuti dengan analisis SWOT. Hasil analisis SWOT dapat digunakan untuk merancang model bisnis perbaikan dan prototipe model-model bisnis masa depan. Dalam hal pengembangan model bisnis, buku ini menampilkan kasus Pusat Pengembangan Eksekutif, sebuah unit bisnis di bawah grup PPM Manajemen yang bergerak dalam bidang pelatihan manajemen.
Elemen ke-1 Customer Segment 
Dalam menjalankan roda bisnis, pertama-tama organisasi harus menetapkan siapa yang harus dilayani. Organisasi dapat menetapkan untuk melayani satu atau lebih segmen. Penetapan segmen ini akan menentukan komponen-komponen lain dalam model bisnis. 
Elemen Ke-2 Value Proposition
Value Proposition adalah manfaat yang ditawarkan organisasi kepada segmen pasar yang dilayani. Tentu saja, value proposition akan menentukansegmen pelanggan yang dipilih atau sebaliknya. Value proposition juga akan mempengaruhi komponen lain seperti Channel dan Customer Relationship. 
Elemen Ke-3, Channels
Channels merupakan sarana bagi organisasi untuk menyampaikan Value Proposition kepada Customer Segment yang dilayani. Channel berfungsi dalam beberapa tahapan mulai dari kesadaran pelanggan sampai ke pelayanan puma jual. Dua elemen lain yang harus diperhitungkan secara cermat dalam membuat model Channel adalah Value Proposition dan Customer Segment. 
Elemen Ke-4, Revenue Stream 
Revenue Stream merupakan komponen yang dianggap paling vital. Umumnya organisasi memperoleh pendapatan dari pelanggan. Meskipun demikian banyak organisasi bisa membuka aliran masuk pendapatan dari kantong bukan pelanggan langsung. 
Elemen Ke-5, Customer Relationship
Yaitu cara organisasi menjalin ikatan dengan pelanggannya. 
Elemen Ke-6 Key Activities
Key Actiwties adalah kegiatan utama organisasi untuk dapat menciptakan Proposisi Nilai. 
Elemen Ke-7 Key Resources
Key Resources adalah sumber daya milik organisasi yang digunakan untuk mewujudkan proposisi nilai. Sumber daya umumnya berwujud manusia, teknologi, peralatan, channel maupun brand. 
Elemen Ke-8, Key Partnership
Key Partnership merupakan sumber daya yang diperlukan oleh organisasi untuk mewujudkan proposisi nilai, tetapi tidak dimiliki oleh organisasi tersebut. Pemanfaatan Key Partnership oleh perusahaan dapat berbentuk outsourcing, joint venture, joint operation, atau aliansi strategis. 
Elemen Ke-9 Cost Structure
Cost Structure adalah komposisi biaya untuk mengoperasikan organisasi mewujudkan proposisi nilai yang diberikan kepada pelanggan. Struktur biaya yang efisien, menjadi kunci besarnya laba yang diperoleh organisasi. 

andimattingaragau@gmail.com