RASIO KEUANGAN
Rasio menunjukkan hubungan matematik antara suatu jumlah dengan jumlah lainnya atau perbandingan antara satu pos dengan pos lainnya. Rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan dirancang untuk mengevaluasi laporan keuangan suatu perusahaan. Dalam hubungannya dengan pengambilan keputusan, rasio keuangan bertujuan untuk menilai efektifitas keputusan yang telah diambil oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas usahanya.Secara garis besar, rasio keuangan terbagi empat, yaitu Likuiditas, Aktivitas, Solvabilitas, dan profitabilitas.
1. Rasio Likuiditas, yaitu kemampuan keuangan perusahaan dalam membayar hutang-hutang jangka pendeknya dengan sejumlah aktiva lancar yang dimiliki.
a. Rasio Lancar (current ratio), dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Cth tahun 2006
Aktiva Lancar Rp. 68.000
CR = ------------------------ = ----------------- = 2.27 x
Hutang Lancar Rp. 30.000
Rata–Rata Industri (RI) sebanyak 2 x atau 200%.
RI 2,27 x atau 227% menunjukkan kemampuan perusahaan menjamin setiap Rp1 hutang lancar dengan 2.27 aktiva lancar. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik (likuid). Nilai ini dianggap baik karena > dari rasio rata2 industri.
b. Acid Test Ratio (Rasio Cepat/Quick Ratio) adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajban lancarnya tanpa mempertimbangkan (memasukkan) persediaan.
Aktiva Lancar - Persediaan
QR = ------------------------------------- Hutang Lancar
Rp. 68.000 – Rp.40.000
= ------------------------------- = 0.93 x atau 93%
Rp. 30.000
Rata – Rata Industri = 1.5 x atau 150%
0,93 x atau 93% menunjukkan kemampuan perusahaan menjamin setiap Rp1 hutang lancar dengan jaminan aktiva lancar tanpa persediaan sebesar 0.93. Nilai ini dianggap kurang baik karena < dari rasio rata-rata industri.
2. Rasio Aktivitas (rasio manajemen aktiva) yaitu serangkaian rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktiva-aktivanya
a. Rasio Perputaran Persediaan (PP)
Penjualan Rp. 20.000
PP = ------------------- = ------------------ = 0.5 x
Persediaan Rp. 40.000
Semakin tinggi nilai rasio ini semakin baik atau semakin efisien atau semakin sering penjualan dihasilkan. Tingkat PP yang rendah memungkinkan perusahaan mengalami kerugian karena persediaan rusak atau usang.
b. Rasio Perputaran Aktiva Tetap (PAT), adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan aktiva tetapnya.
Penjualan Rp20.000
PAT = -------------
= 0.16 x
Aktiva Tetap Bersih Rp. 125.000
Rasio ini menunjukkan bhawa dalam 1 tahun perusahaan mampu memutar dana dalam aktiva tetapnya guna menghasilkan penjualan sebanyak 0.16 x.
c. Umur Rata-Rata Piutang (URRP), menunjukkan jangka waktu rata- rata yang harus ditunggu perusahaan setelah melakukan penjualan sebelum menerima kas.
Piutang
URRP = ----------------------------------------------------------------- Rata2 Penjualan Perhari atau Penjualan / 365 hari
Rp.20.000
URRP = ------------------------- = 365 hari
Rp.20.000 / 365 hari
Nilai ini menunjukkan bahwa rata-rata konsumen perusahaan membayar dalam waktu yang cukup lama (365 hari atau setara dengan 1 tahun) dan hal ini akan menyedot dana perusahaan yang sebenarnya dapat dipergunakan untuk investasi dalam aktiva yang lebih produktif.
3. Rasio Solvabilitas~Struktur Modal (Debt Ratio), yaitu rasio yang mengukur kemampuan perusahaan membayar utang2nya, terutama hutang jangka panjang. Atau rasio yang mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau mengukur tingkat proteksi kreditor jangka panjang
a. Rasio Hutang (Debt Ratio), adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin hutangnya dengan sejumlah aktiva yang dimiliki. Cth tahun 2006
Total Hutang Rp. 68.000
DR = ---------------------- = ------------------ = 0.29 a/ 29%
Total Aktiva Rp. 233.000
Hal ini menunjukkan bahwa 0.29 atau 29% dari total aktiva perusahaan dibiayai dengan modal pinjaman (hutang). Semakin tinggi rasio ini semakin berat beban hutang perusahaan.
b. Rasio Hutang Terhadap Modal Sendiri (Debt to Equity Ratio),
Total Hutang Rp. 68.000
DER = ----------------------------- = ------------------ = 0.41 a/ 41%
Total Modal Sendiri Rp. 165.000
Bahwa setiap Rp 0.41 utang jangka panjang dijamin dengan Rp.1 modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan semakin besar hutang jangka panjang dibanding modal sendiri yang dimiliki.
c. Rasio Kelipatan Membayar Bunga (Time Interest arned-TIE), Rasio yang mengukur sejauh mana laba operasi dapat menurun sebelum perusahaan tidak mampu lagi membayar biaya bunga tahunannya atau rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi pembayaran bunga tahunan.
Laba Sebelum Bunga & Pajak (Laba Operasi)
TIE = ------------------------------------------------------------------ Beban Bunga
Rp.5.000
= ------------- = 2,5 kali (rendah)
Rp. 2.000
Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin baik atau perusahaan tidak akan mengalami kesulitan jika ingin meminjam dana lagi.
4. Rasio Profitabilitas, adalah sekelompok rasio-rasio yang menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang pada hasil-hasil operasi atau kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri.
a. Margin Laba Kotor/MLK (Gross Profit Margin), rasio yang mengukur berapa besar laba kotor yang dihasilkan dibanding dengan total penjualan bersih perusahaan.
Laba Kotor Rp. 5.000
MLK = ------------------- = --------------- = 0.50 a/ 50%
Penjualan Rp. 20.000
Nilai 50% menunjukkan bahwa setiap Rp.1 penjualan menghasilkan laba kotor sebesar Rp.0.50. Semakin besar rasio ini, maka semakin semakin baik atau menunjukkan perusahaan mampu menekan kenaikan HPP pada prosentase di bawah kenaikan penjualan.
b. Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin), disebut juga pure profit yaitu profit yang dihasilkan benar2 murni dari hasil operasi. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasi dari penjualan yang dicapai. Contoh tahun 2006 :
Laba Operasi Rp. 5.000
MLO = ----------------------- = ------------------ = 0.25 atau 25%
Penjualan Rp. 20.000
Nilai 25% menunjukkan bahwa setiap Rp.1 penjualan mampu menghasilkan laba operasi sebesar Rp.0.25. Semakin besar rasio ini, maka semakin semakin baik.
c. Margin Laba Atas Penjualan~MLP (Profit Margin On Sale) atau Net Profit Margin, yaitu rasio yang mengukur jumlah laba bersih pernilai rupiah penjualan. Rasio ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengendalikan biaya & pengeluaran sehubungan dengan penjualan.
Laba Bersih (Tersedia Untuk Pemegang Shm Biasa)
MLP = ---------------------------------------------------------------------
Penjualan
Rp.2.100
= ------------------- = 0.11 atau 11%
Rp. 20.000
Angka ini menunjukkan bahwa setiap Rp.1 penjualan mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.11.
d. Rasio Pengembalian Atas Aktiva (ROA~Return on total Assets), atau ada juga menyebutnya Rasio Return on Investment (ROI), yaitu Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dengan penggunaan seluruh aktiva yang dimiliki.
Laba Bersih Setelah Pajak Rp.2.100
ROA = ----------------------------------- = --------------- = 0.01 atau 1%
Total Aktiva Rp.233.000
Nilai ini menunjukkan bahwa setiap penggunaan Rp.1 aktiva akan menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.01.-
e. Return on Equity (ROE), atau Return on Net Worth, Rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham.
Laba Bersih Setelah Pajak Rp.2.100
ROE = ------------------------------------- = ------------- = 0.01 a/ 1%
Modal Sendiri Rp.165.000
Nilai ini menunjukkan bahwa setiap penggunaan Rp.1 modal sendiri akan menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.01.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar